By Cak Nash
Jelang fajar tadi pagi, angin di luar tak tampak ada pergerakan. Sepertinya ia sedang mengamati dosa-dosaku yang kuperbuat kemarin.
Aku jadi merasa bersalah.
Gerangan dosa apa yang telah kuperbuat kemarin.
Sementara, aku merasa tidak melakukan dosa apa-apa.
Ah, itu menurutku, tidak menurut orang lain. Orang lain tentu lebih tahu kesalahan dan dosaku dari diriku sendiri. Aku yakin itu.
Namun, aku terus bertanya, “Dosa apa yang kuperbuat hingga alam pun tidak bersahabat denganku fajar tadi?” Apa pedulinya?
Jelang fajar tadi, aku memang galau, penuh tanda tanya. Ia tidak mengirimkan hawa sejuk ke dalam rumahku, tidak seperti hari sebelumnya hingga aku bergantung pada kipas angin? Why?
Akupun terus berintrospeksi, pasti ada yang tidak beres pada diriku yang lemah ini. Ah, tapi biarlah kode alam cukup menjadi isyarat bagi diri ini. Manusia memang kadang merasa sok suci, padahal banyak dosa yang telah diperbuatnya.
Seharian kemarin, hamba merasa telah banyak berbuat kebaikan, tapi angin sepertinya memberi isyarat, “Kamu kemarin punya dosa.”
Begitu besar perhatiannya padaku. Terima kasih, wahai angin. Aku berharap fajar esok kau datang membawa kesejukkan, sejuk bagi fisikku, juga sejuk bag jiwa ini.
*Penulis adalah penyuka urap sayuran.



