Ummu Thooriq
Orang tua muslim saat ini mendapatkan tantangan yang unik dalam mendidik anak-anaknya. Bagaimana tidak, anak-anak kita yang dikenal dengan Generasi z, yang lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an, tumbuh dengan akses luas terhadap teknologi dan informasi. Anak-anak kita terlahir dari orangtua generasi x dan milenial yang hidup dalam situasi ekonomi lebih prihatin. Sebagian besar orangtua generasi z tumbuh dalam pola asuh keras, cita-cita terbatas, dan kepintaran akademik menjadi patokan kesuksesan.
Orang tua yang memahami karakteristik generasi z lebih mudah dalam berinteraksi dan mendidik mereka secara efektif. Mereka terampil dalam menggunakan teknologi dan cenderung bergantung pada alat-alat tersebut untuk berkomunikasi, mendapatkan informasi, dan belajar. Mereka sangat terbiasa memenuhi berbagai kebutuhannya dengan ponsel pintar, tablet, dan akses internet. Orang tua dan pendidik jangan sampai ketinggalan. Kita belajar untuk mengajarkan anak-anak bagaimana penggunaan teknologi yang bertanggung jawab; bagaimana menjaga keamanan privasi kita secara online; dan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan online dan offline.
Walaupun derasnya arus informasi sangat kuat, namun sebagai muslim setidaknya ada tiga hal yang jangan sampai dilupakan orang tua dalam mendidik anak. Dengan berpegangan pada poin-poin ini kita memberikan imunitas kepada anak-anak kita untuk hidup di zamannya.
Poin pertama dan utama adalah bagaimana kita mengajarkan anak-anak kita Mengenal Allah sang Khalik dan mencintai-Nya. Kita perlu membantu anak-anak kita untuk memahami tujuan daan fungsi kehidupan yang dianugerahkan Allah kepada kita. Abai dalam mengenalkan Tuhan ini akan sangat dahsyat efeknya dalam diri seseorang. Hidup tanpa hidayah bak seorang yang berjalan dalam gelap, tak tentu arah dan mudah sekali tersesat. Tak heran orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, akan mudah berputus asa dan mengakhiri hidupnya.
Mari kita cek negara-negara yang terbilang maju secara teknologi namun tidak diiringi mengenal Tuhan. Sebutlah Korea Selatan, siapa yang tidak mengakui kemajuan teknologinya yang bisa melampaui Jepang dalam waktu hanya beberapa dekade. Korea Selatan menjadi negara dengan teknologi paling maju di dunia, unggul dalam konektivitas internet, inovasi, dan investasi penelitian dan pengembangan. Namun siapa sangka walaupun mereka maju dalam teknologi, Korea Selatan memiliki angka bunuh diri 28,6 per 100 ribu, menjadikannya sebagai negara Asia dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia. Negara ini konon menghadapi tantangan seperti ketidakpastian ekonomi, pasar kerja yang sangat kompetitif, dan tingkat stres yang tinggi. Lain lagi dengan Finlandia, negara dengan tingkat kebahagiaan tertinggi di dunia. Data statistic tahun 2019 menyatakan bahwa tingkat bunuh diri Finlandia pun tinggi mencapai 15,30. Hal ini menjadikan Finlandia sebagai salah satu negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di Eropa. Selain masalah kesehatan mental yang dianggap penyebab tingginya tingkat bunuh diri di Finlandia, mereka pun termasuk negara yang banyak mengonsumsi alcohol.
Nah, belajar dari kemajuan negara-negara lain dalam teknologi tentu harus membuat kita juga berhati-hati agar dampak negatif seperti masalah kesehatan mental dan ketenangan jiwa yang jarang dimiliki penduduk negara tersebut tidak menghampiri Indonesia. Kita tidak menghendaki anak-anak kita keren dalam teknologi tapi tidak mengetahui tujuan hidup sehingga mudah sekali memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Na’uzubillah
Poin kedua adalah mendidik anak untuk membina hubungan yang baik dengan manusia. Walaupun banyak hal sekarang bisa dilakukan dengan teknologi, tapi bergaul dan berinteraksi dengan manusia sangatlah penting. Manusia abad 21 yang tidak berinteraksi dengan manusia lainnya akan mengalami berbagai masalah psikologis. Fenomena ini sudah mulai tampak di beberapa negara maju yang memang sistem kemasyarakatannya lebih individualis dibanding Indonesia.
Saat pandemi melanda dunia, banyak kasus anak yang menderita masalah psikologis karena tidak berinteraksi dengan teman-temannya. Saat dunia telah normal seperti sekarang, masalah psikologis lain karena kurangnya bergaul juga banyak muncul, seperti masalah kesepian. Kesepian disinyalir merupakan masalah psikologis yang banyak ditemukan di negara maju. Penyakit ini menjangkiti lansia hingga remaja. Kesepian bisa menyebabkan gangguan makan, timbulnya berbagai penyakit hingga kematian dini. Penyakit lainnya adalah Hikikomori yang banyak terjadi di negara Jepang sebagai bentuk pelarian diri dari kerasnya kehidupan social yang menimpa banyak remaja. Mereka lebih memilih untuk tidak berinteraksi dengan lingkungannya dan merasa aman serta nyaman dengan mengasingkan diri dari masyarakat. Belakangan ini fenomena Hikikomori terjadi tidak hanya di Jepang tapi juga terjadi di Indonesia dan beberapa negara maju. Penyakit ini muncul disebabkan oleh perasaan takut menghadapi tantangan atau kegagalan di lingkungan, tidak percaya diri, kecanduan game, terjadi bully oleh teman-teman secara terus menerus, dan lain-lain.
Islam sangat menganjurkan bergaul dengan manusia lain. Bahkan salah satu indikator baiknya keislaman seseorang adalah akhlaknya. Anak-anak kita perlu dikenalkan cara bergaul dan pergaulan yang Islami sehingga mereka dapat tumbuh menjadi karakter yang kuat dan bermanfaat. Jangan sampai karena pengaruh media sosial dan internet justru menjauhkan mereka dari realita.
Poin yang ketiga adalah pentingnya mencari rezeki yang baik. Islam sangat memperhatikan apa yang kita makan serta asal makanan kita. Demikianlah anak-anak kita perlu dipahamkan agar mereka tidak hanya mengonsumsi makanan karena tren atau karena sedang viral. Kehalalan dan gizi perlu menjadi focus utama kita dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Tak hanya itu, sumber rezeki yang digunakan berbelanja pun perlu diperhatikan. Keberkahan dalam rezeki yang halal lebih utama daripada kuantitas banyak namun syubhat atau tidak diketahui kejelasan asalnya.
Perkembangan dunia digital juga menyebabkan munculnya berbagai profesi baru dan hilangnya berbagai profesi yang dahulu dikenal orang. Sumber-sumber rezeki terbuka dari berbagai arah. Namun anak yang tidak dibekali kompetensi abad 21 akan mengalami kendala dalam masalah ekonomi. Generasi Z disinyalir akan menghadapi ketidakstabilan ekonomi, kesulitan dalam menemukan pekerjaan yang layak, dan tingginya tingkat pengangguran. Hal ini dapat menyebabkan kekhawatiran mengenai masa depan finansial dan ketidakpastian dalam membangun karier yang stabil. Penting bagi kita membekali pengetahuan dan kompetensi yang diperlukan mereka untuk mengembangkan potensinya sesuai dengan perkembangan zaman.
Hal yang tak boleh dilupakan adalah mengembangkan kecerdasan finansial anak. Perkembangan dunia digital juga sangat signifikan mempengaruhi bidang keuangan dan perbankan. Kemudahan bertransaksi secara digital juga membawa efek samping kepada anak-anak kita dalam beban keuangan dan hutang. Tanpa kecerdasan finansial yang cukup, mereka akan mudah teriming-imingi investasi yang tidak jelas serta hutang yang mengikat.
Orang tua muslim perlu terus Âmenjaga anak-anak kita agar efek negatif lingkungan yang terus berkembang tidak sampai mempengaruhi kepribadian dan akhlak mereka. Kita berikan pengasuhan, pendidikan, dan sumber daya yang diperlukan untuk membantu mereka mengatasi tantangan yang timbul dan mereka dapat bertumbuh menjadi individu yang tangguh dan berdaya.
Sebaik-baik bekal adalah takwa dan sebaik-baik pedoman adalah Al Qur’an. Selama kita mengajarkan anak kita akan hal ini, semoga mereka dapat kuat dalam menghadapi tantangan zaman dan hidup dalam keselamatan dan kemanfaatan. Insya Allah
Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan yang menyejukkan hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.Â
(Q.S Al-Furqan: 74)



